Hanya Fitnah & Cari Sensasi, George Revisi Buku
03 Jan 2010 11:01:28
Prolog
Pada Rabu, 23 Desember 2009 di Yogyakarta sebuah buku berjudul Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century dirilis oleh penulisnya, Goerge Junus Aditjondro. Mengomentari peluncuran buku ini, Metro TV melalui Top 9 News Nusantara pada Kamis, 24 Desember 2009, merilis berita berjudul “Buku Membongkar Gurita Cikeas Dinilai Cari Sensasi.”
Pasalnya, buku terbitan Galangpers, Yogyakarta, ini hanya memberikan porsi satu bab untuk membahas keterlibatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kasus century. Itupun menyajikan data-data hampir sama dengan yang selama ini beredar di media massa. Alhasil, judul buku karangan George dianggap sekadar mencari sensasi.
Buku George justru lebih banyak mengulas berbagai kinerja yayasan di sekitar Presiden Yudhoyono. George menyebut yayasan-yayasan itu sebagai alat menggalang dana untuk kepentingan politik. Menurut George, kebanyakan penyumbang dana adalah pengusaha hitam.
Jumat 25 Desember 2009, buku yang sudah diedarkan hilang dari pasaran. Lantas penerbitpun sibuk memberi penjelasan. Tak ketinggalan berbagai pihak mengomentari atas fenomena hilangnya buku ini dari toko buku yang mengedarkan. Sebuah promosi dagang yang efektif?
Masyarakat jadi penasaran dan sibuk mencari tahu tentang apa yang ditulis Goerge dalam bukunya. Karena langka, harga buku pun jadi mahal. Bahkan ada yang menjualnya dalam versi fotocopy.
Sejak dirilis, buku ini melahirkan kontroversi. Banyak pihak yang memandang sebelah mata atas kehadiran buku ini. Namun, ada juga yang melihat sebagai sesuatu yang luar biasa?
Pada Minggu, 27 Desember 2009, Prof.DR Amien Rais, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah berada di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seperti dikutip berbagai media, mantan Ketua MPR RI ini mengaku untuk membaca buku yang ditulis Goerge hanya butuh waktu dua jam saja. Bagaimana pendapatnya ?
Amien bilang kelemahan buku tersebut karena mengambil data dari sumber sekunder, yang berasal dari internet, jurnal, koran dan majalah, yang kemudian digabungkan tanpa ada penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh penulis. Dalam pemahaman akademis, memang kekuatan data sekunder tidak terlalu berbobot.
Dia menyarankan untuk menghindari polemik di tengah masyarakat maka sebaiknya dibuatkan forum terbuka bagi penulis dan juga pihak yang disebutkan namanya dalam buku tersebut, dan hasilnya diserahkan kepada masyarakat untuk menilai. Meski demikian, Amien meminta agar masyarakat dapat menelaah isi buku dengan baik karena data yang disampaikan merupakan hanya data sepihak saja.
"Kita dapat informasi yang masih sepihak. Karena itu, tidak usah buru-buru mengambil kesimpulan, karena kita masih tunggu pihak yang lain," tandas mantan ketua MPR tersebut.
Pendapat hampir senada dilontarkan Arbi Sanit. Pengajar ilmu politik dari Universitas Indonesia ini menganggap buku Membongkar Gurita Cikeas, memang kurang otentik. Belum ada fakta-fakta otentik yang disajikan penulisnya. Semua masih berupa indikasi-indikasi yang masih sumir dan diperdebatkan kebenarannya.
"Baru berdasarkan indikasi-indikasi. Jadi kalau berdasarkan indikator secara saintifik ilmu sosial sah. Tapi tidak dipercaya benar. Kesahihannya masih kurang," papar Arbi Sanit di Jakarta, 29 Desember 2009.
Arbi mengkritik relasi antara satu peristiwa satu dengan peristiwa lain dalam buku tersebut belum digambarkan jelas. Seperti halnya relasi bailout dengan tokoh-tokoh Demokrat. Demikian pula dengan operasional kampanye SBY, relasinya hanya berdasarkan indikator.
Arbi menambahkan, alangkah tepatnya jika dalam buku George tersebut disertai dengan data-data yang mendukung tudingan-tudingan yang dia tujukan kepada SBY.
"Jika tidak ada data-data seperti itu, susah dong. Jadi lebih banyak berdasarkan hipotesis, dibuktikan hanya dengan indikasi-indikasi yang sama-sama terjadi sehingga dapat dikatakan baru berupa hubungan koinsidensi,” kata pengamat politik yang kerap menguncir rambut ini.
Terhadap tudingan dalam buku tersebut, Arbi Sanit berharap Presiden SBY tidak membawa masalah ini ke ranah hukum. Lain lagi Irman Gusman. Ketua DPD ini berkomentar lebih tegas menanggapi buku Goerge. Baginya buku tersebut tak ada nilainya. Hanya berisi kumpulan gosip dan fitnah yang hanya mencari sensasi belaka.
Karenanya, buku itu tak perlu ditanggapi serius, apa lagi dibuatkan bedah buku. "Kalau dibedah itu yang jelas. Buku itu hanya kumpulan gosip," kata Irman di Gedung DPD, Jakarta Senin 28 Desember 2009.
Bagi Irman, yang namanya buku haruslah disusun berdasar fakta dan data secara ilmiah. "Ini soal kasus Century-nya saja baru proses investigasi, yang melakukan panitia angket DPR dan KPK," kata Irman.
Buku karya George, tambah dia, jauh berbeda dengan buku All the Presidents Men yang mengakibatkan jatuhnya Presiden Nixon dalam kasus watergate. "Buku itu dibuat berdasarkan investigasi dua wartawan. Kalau ini hanya buku murahan saja kok," kata Irman.
George harus menjelaskan secara lebih detail, ilmiah, harus siap diuji publik tentang keabsahan data-data yang dia sebut dalam buku. "Kalau ada yang dirugikan bisa minta pertanggungjawaban, bisa melalui hukum."
Dari Surakarta, Prof. DR. Andrik Purwasito, DEA berkomentar bahwa buku Goerge tidak memenuhi standar-standar ilmiah. Pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret ini mengkritik penulis buku itu karena tidak melakukan verifikasi yang ketat atas data yang dilansirnya.
“Apakah George Junus Aditjondro pernah wawancara khusus dengan SBY?” ujarnya Andrik di Solo, Selasa, 29 Desember 2009.
Bagi Andrik jika buku itu menulis tentang Cikeas, sudah barang tentu subjek yang ditelitinya harus juga dilibatkan. Apakah dia menyangkal, mengamini, atau mengiyakan. Itulah yang menjadi kekuatan si peneliti untuk mengambil kesimpulan.
Yang menjadi pertaruhan seorang peneliti adalah bagaimana mengolah data-data yang saling bertentangan. Untuk itu, subjek dari kajiannya juga harus dilihat, jangan hanya melihat subjek kajian dari jarak jauh.
“Saya pikir George belum pernah secara khusus, misalnya mewawancarai SBY atau keluarganya atau yayasan-yayasannya atau sumber-sumber data yang ditulis dalam buku itu,” kata Andrik.
Lantas apa tanggapan George ? Entahlah. Yang jelas, dirinya sudah menyatakan untuk melakukan revisi terhadap Membongkar Gurita Cikeas. Bahkan dalam acara launching bukunya di Doekoen Coffee, pada 30 Desember 2009 yang melahirkan insiden “pemukulan”, beberapa sejawatnya urunan untuk membantu dana guna kepentingan revisi tersebut.
Fenomena Isi Buku
Membaca secara cermat buku Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century yang dibuat Goerge, terlihat jelas bahwa sebagian isi didalamnya, menggambarkan pendapat pribadi penulisnya. Pendapat tersebut dibangun berdasarkan asumsi-asumsi saja.
Karena tidak didukung data dan fakta yang akurat, pendapat itu hanya berdasarkan analisa yang sangat sumir serta cenderung tendensius dan spekulatif. Entah kenapa, penulisnya seakan mengkesampingkan kaidah-kaidah ilmiah yang seharusnya diterapkan dalam penulisan sebuah buku.
Setidaknya, ada tiga fenomena pokok yang dirangkai oleh sang penulis : 1. Tudingan jaringan bisnis dan politik Presiden dan keluarganya. 2. Tudingan pemanfaatan jaringan, untuk pemenangan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009. 3. Tudingan keterkaitan jaringan dengan kasus Bank Century.
Sayangnya, tudingan-tudingan tersebut dibangun hanya melalui kepandaian merangkai data-data sekunder. Tanpa melakukan konfirmasi atau penelitian yang lebih mendalam. Sehingga metode analisa yang digunakan menjadi sangat sumir. Bahkan tingkat tendesinya mengandung unsur spekulasi. Tampaknya, penulis lebih mengedepankan logika politik daripada menggunakan logika formal dalam menilai dinamika sosial politik yang terjadi.
Makanya jangan heran, jika dalam buku ini banyak ditemui asumsi-asumsi sumir yang dibungkus kata-kata bersayap, seperti "barang kali", "bisa jadi", "mungkin saja" hingga kalimat bertanya. Dikalangan para wartawan, penggunaan kalimat semacam ini, kerap diguyonkan dengan istilah Jurnalis Konon.
Sangat disayangkan, buku George kali ini, hanya mengambil referensi kepada bahan-bahan sekunder seperti koran, majalah, brosur, dan internet . Selain itu, penggunaan sumber anonym, justru menambah rangkaian kelemahan yang ada. Seandainya buku ini memiliki data yang valid dan ditulis berlandaskan metodologi yang terukur, tentu akan menjadi buah karya yang fenomenal.
Dari teknis menggantuk-gantukkan informasi sekunder tersebut, penulis tampaknya mengedepankan "Teori Konspirasi" yang populer. Sayang tidak didukung oleh data kuat. Sehingga buku ini terkesan lebih mementingkan sensasionalitas ketimbang akurasi dalam penyajian data dan fakta.
Cilakanya, kesan sensasional itu semakin menguat, manakala tak ada satupun wawancara langsung yang dilakukan penulis untuk mengkonfirmasi data sekunder yang ada. Terutama terhadap narasumber langsung ataupun yang terkait. Itu pun tidak dilakukan.
Jika konfirmasi pun tidak, apalagi referensi silang (cross reference) antara referensi sekunder dengan narasumber terkait untuk memperoleh validitas dari sumber-sumber yang digunakan. Penulisnya seakan bermain dalam alam pikirannya sendiri, dan membangun asumsi-asumsi sendiri tanpa mementingkan apakah data yang digunakannya akurat atau tidak.
Padahal, sebagai sebuah karya intelektual, tentu penulis buku ini sangat memahami tatakrama dan aturan main dalam menulis sebuah karya.
Meninjau Isi
Bila halaman demi halaman kita cermati, pada buku Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century, banyak sekali ditemukan data serta statemen penulis yang hanya bersumberkan pada data sekunder belaka. Tak ada upaya untuk melakukan verifikasi guna menguji keakuratannya. Bahkan, beberapa stateme, sengaja dibuat dalam bentuk hipotesis.
Seperti yang ditulis pada halaman 14-15. “… Sebelum Bank Century diambil alih oleh LPS, Boedi Sampurna, seorang cucu pendiri Pabrik Rokok PT HM Sampoerna, Lim Seng Thee, masih memiliki simpanan sebesar Rp 1.895 milyar di bulan November 2008, sedangkan simpanan Hartati Moerdaya sekitar Rp. 321 Milyar. Keduanya sama-sama penyumbang logistik SBY dalam Pemilu lalu…”
Entah dari mana George tahu tentang uang simpanan Boedi Sampoerna dan Hartarti Moerdaya di Bank Century? Tak jelas asal sumbernya.
Terlepas dari sumber antah berantah ini, yang pasti Hartati Murdaya sebagai sosok yang dituding sudah mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah menyimpan dana di Bank Century. Bahkan, nama bank itupun baru dikenalnya setelah media massa ramai menyajikan pemberitaan tentang kasus bail out tersebut.
Pada halaman 23 ditulis, “… Dwi Mingguan Explo dapat dijadikan indikator, sikap Partai Demokrat---dan barangkali juga, Ketua Dewan Pembinanya --- terhadap Kebijakan Negara di Bidang ESDM. Misalnya, dalam pendirian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), yang nampaknya sangat dianjurkan oleh Redaksi Explo (c.q tulisan sdr. Noor Cholis ttg PLTN Muria)...”
Tulisan ini jelas menggambarkan interprestasi sepihak dari penulis. Jika Goerge bertindak cermat dalam menelaah referensi yang digunakan, tentu presepsinya tidak akan seperti itu.
Faktanya, tulisan Noor Cholis, alumnus Universitas Gajahmada di majalah Dwi Mingguan Explo merupakan paparan penelitiannya. Jadi tulisan itu bukanlah sikap dari Partai Demokrat. Apalagi jika dikaitkan sebagai sikap dari Presiden SBY, seperti yang tersirat dari interprestasi penulis. Sangat jauh panggang dari api.
Pada halaman (hal, 23,24,25), penulis mengungkapkan aliran dana dari Sampoerna ke Koran Harian Jurnal Nasional, Blora Centre dan Harian Jurnal Bogor. Dihalaman 24 tertulis “… Sebelum menjabat sebagai pemimpin redaksi Jurnas, Ramadhan Pohan merangkap sebagai Direktur Opini Publik & Studi Partai Politik Blora Center, Think Tank Partai Demokrat yang mengantar SBY ke kursi presidennya yang pertama. Barangkali ini sebabnya, kalangan pengamat politik di Jakarta mencurigai bahwa dana kelompok Sampoerna juga mengalir ke Blora Center…”
Penggunaan kata “barangkali”, jelas membuktikan bahwa George tidak yakin terhadap data dan materi yang ditulisnya. Sebab, jika penulis yakin, kata “barangkali” tentu akan dihilangkan. Metode penulisan semacam ini, biasa dilakukan media massa, guna menghindari ralat, somasi, atau tuntutan hukum terhadap mereka. Sehingga tema yang dikembangkan, lebih sebagai kepintaran merangkai opini yang dilandasi rasa curiga belaka.
Di TV One, pada tanggal 29 Desember 2009, tepatnya pukul 07.30 WIB di dalam acara Kabar Pagi, Ramadhan Pohan, sebagai pihak yang dituding melakukan klarifikasi dan bantahan atas tulisan tersebut. Dan George yang juga hadir disitu, tak dapat memberikan argumentasinya dengan kokoh.
Pada halaman 26, Goerge kembali mengatasnamakan masyarakat untuk mengungkapkan kecurigaannya tentang adanya aliran dana yang disalurkan ke Partai Demokrat. Dihalaman itu tertulis, “..Kecurigaan masyarakat bahwa keluarga Sampoerna tidak hanya menanam modal di kelompok Media Jurnal Nasional, tetapi juga di simpul-simpul kampanye Partai Demokrat yang lain, yang juga disalurkan lewat Bank Century, bukan tidak berdasar. Soalnya, Laporan Keuangan PT. Bank Century Tbk untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 Juni 2009 dan 2008 menunjukkan bahwa ada penarikan simpanan pihak ketiga sebesar 5,7 trilyun…”
Kalimat pembuka dalam paragraf ini sudah dimulai dengan keraguan. “..Kecurigaan masyarakat....” Masyarakat mana yang curiga? Tentu saja masyarakat yang pro dengan kalimat selanjutnya. Kalimat insinuatif ini dibangun tanpa dasar referensi atau sejenis laporan yang jelas.
Sangat naif sekali penulis mendasarkan pendapatnya bahwa ada aliran dana untuk simpul kampanye Partai Demokrat hanya karena Laporan Keuangan PT. Bank Century Tbk untuk tahun yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2009 dan 2008 yang menunjukkan bahwa ada penarikan simpanan pihak ketiga sebesar 5,7 trilyun. Batas tanggal laporan keuangan ini, kian membingungkan pembaca.
Penulis bahkan tidak melampirkan sumber referensi dari laporan tersebut. Sehingga informasi ini sama sekali tidak dapat dipercaya. Tingkat distorsi atas data ini sangat kuat.
Dihalaman 29, Goerge menuding bahwa Rully Iswahyudi sebagai pengelola Bravo Media Center .“… Rully Ch. Iswahyudi. Selain menjadi Direktur Komersial & IT Perum LKBN Antara, ia juga ikut mengelola Bravo Media Center…”
Disini, seharusnya Goerge melakukan cross reference sebelum mengungkap tudingan tersebut. Bagaimana mungkin, seorang Rully Iswahyudi diberi jabatan oleh George sebagai pengelola Bravo Media Center? Masyarakat tahu persis, seorang Rully tak pernah menjadi anggota, apalagi pengelola BMC.
Rully pun sudah membantah tudingan itu dan menyatakan tidak pernah menjadi anggota atau bahkan pengelola Bravo Media Center. Bantahan langsung dari Rully disiarkan di Metro TV dalam acara Metro Pagi, tanggal 30 Desember 2009, Pukul 06.15 WIB.
Pada halaman 30,George dengan yakin mengungkapkan tentang adanya dana Public Service Obligation (PSO) Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara sebesar Rp. 40,6 milyar, ke Bravo Media Center. “… Lalu, adakah kontribusi finansial Rully bagi kampanye Capres dan Cawapres SBY-Boediono? Ada. Bersama Direktur LKBN Antara, Dr. Akhmad Mukhlis Yusuf, separuh dari dana PSO (Public Service Obligation) LKBN Antara yang berjumlah Rp. 40,6 milyar mengalir ke Bravo Media Center, salah satu Tim Kampanye SBY-Boediono…”
Dari segi besaran, George begitu yakin menuliskan tentang separuh dari dana PSO LKBN Antara yang sebesar Rp40,6 miliar. Padahal jumlah keseluruhan dana PSO sebesar Rp50 miliar. Kalau separuh dari Rp50 miliar, anak kecil pun bisa berhitung, jumlahnya Rp25 miliar. Entah darimana data ini didapatkan Goerge. Tampaknya kalkulator yang digunakan penulis, sudah usang. Sehingga cara mengkalkulasikan hitung-hitungan dan jumlahnya menjadi salah.
Itulah kemudian, oleh Direktur Utama LKBN Antara, Akhmad Muchlis Yusuf dibantah habis. Bantahan terhadap data-data sumir dan logika berpikir yang disampaikan penulis buku tersebut, langsung didepan George. Tepatnya dalam siaran langsung Kabar Pagi TV One Tanggal 29 Desember 2009, pukul 07.30 WIB.
Dalam buku ini, George juga menulis tentang yayasan-yayasan yang ditudingnya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi Susilo Bambang Yudhoyono atau keluarganya.
Sekedar mengingat kebelakang, George pernah meluncurkan buku bertajuk “Korupsi Kepresidenan di Masa Orde Baru” pada tahun 2002. Dalam buku ini, George melihat metode korupsi , yang salah satunya adalah melalui pembentukan yayasan.
Dibuku itu, George menuding Soeharto menggunakan yayasan-yayasan itu untuk menghindari pajak dan mengumpulkan kekayaan dengan cara mengaburkan perbedaan antara perusahaan publik dan perusahaan swasta. Soeharto mengumpulkan sumbangan dari perusahaan swasta dan negara untuk yayasan itu melalui beberapa Keputusan Presiden (Keppres).
Di sinilah letak keberhasilan George menunjukkan praktik abuse of power melalui beberapa Keppres.
Sebut saja Yayasan Dana Sejahtera Mandiri/YDSM: Soeharto menerbitkan Keppres No 90/1995 dan No 92/1996 yang mewajibkan wajib pajak berpenghasilan Rp 100 juta ke atas menyetor 2 persen ke YDSM. YDSM dibentuk untuk membantu keluarga miskin. Dari Rp 768 miliar kekayaan yayasan, diduga yang dikeluarkan untuk tujuan sebenarnya hanya 18,5 persen.
Nah, dalam buku Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century, George bukan hanya gagal menunjukkan fakta-fakta otentik soal abuse of power dalam pendirian yayasan. Tetapi juga gagal memberi bukti bahwa Susilo Bambang Yudhoyono memanfaatkan dana bail out Bank Century dan penggunaan dana BUMN untuk menjadi logistik kemenangannya dalam pilpres atau sekedar untuk mencari kekayaan.
Pada halaman 36, penulis mengungkapkan bahwa YKDK menerima kucuran dana US$ 1 Juta dari Djoko Soegiarto Tjandra. “… Mereka tidak perlu lagi bingung memikirkan penggalangan dana (fund raising) bagi yayasan ini, yang telah mendapat kucuran dana sebesar US $ 1 juta dari Djoko Soegiarto Tjandra, pemilik Bank Bali dan buron kelas kakap BLBI…”
Data yang ditampilkan Goerge ini bersifat sekunder. Bila George ingin menjadikan bukunya sebagai referensi, tentu harus dilakukan verifikasi kepada pengurus dan pengelola yayasan tersebut. Sehingga informasi yang disajikan memiliki tingkat validitas yang baik.
Dihalaman 37, penulis kembali melontarkan opini yang sangat tendensius tentang adanya acara dzikir dengan 3.000-4.000 jemaah yang diikuti dengan makan malam di Istana Negara. “… Kegiatan yayasan ini (Majelis Dzikir SBY Nurussalam) telah menelan dana yang sebagian mungkin berasal dari anggaran negara. Misalnya, dana untuk kegiatan zikir dan doa di Masjid Baiturrahim di kompleks istana Negara Jakarta di akhir 2007-2008 yang diikuti antara 3000-4000 jemaah. Setelah selesai berdoa mereka diundang makan malam di Istana Negara…”
Disini George kembali mengulang kesalahan serupa, hanya menduga-duga dan menyelubunginya dengan kata-kata “mungkin”. George mentautkan daya improvisasinya dengan memainkan kalimat-kalimat sambung.
Sepatutnya penulis melakukan verifikasi. Atau setidaknya mampu menggunakan secara cermat logika berpikir yang matang. Misalnya soal jumlah peserta dzikir di kompleks Istana yang melibatkan 3000-4000 jamaah. Padahal kapasitas Istana Negara hanya dapat menampung sekitar 300 orang saja.
Pada halaman 42, ditulis tentang jual beli tanah di Cikeas. “… Jadi boleh dikata, Suratto adalah seorang pengembang yang berhasil, yang berkepentingan untuk mempertahankan SBY menjadi Presiden untuk periode keduanya, supaya harga tanah di kompleks Cikeas Indah semakin mahal…”
Bagian ini jelas hanya asumsi semata dari penulis yang sifatnya sangat tendensius. Apa hubungan antara SBY menjadi presiden untuk kedua kali dengan pengembang dan harga tanah? Sungguh ironis mengkaitkan logika berpikir yang demikian. Kalau kita membicarakan naiknya harga tanah, diseluruh Jabodetabek bahkan di Indonesia, harga tanah selalu akan naik.
Dalam teori ekonomi yang sederhana, harga akan naik bila permintaan lebih tinggi dari penawaran. Tanah tidak pernah bertambah, sementara yang memerlukan tanah kian bertambah. Jadi tidak ada hubungannya dengan status seseorang. Dan sajian George soal ini, sudah dimentahkan oleh Suratto dalam Kabar Pagi TV One, tanggal 30 Desember 2009, pukul 06.00 WIB.
Logika berpikir ala “simsalabim” juga ditunjukkan George dalam ulasannya tentang dana dari Bank BRI dan Bank Bukopin yang mengalir ke Yayasan Puri Cikeas. Daya khayal penulis memang luar biasa. Seakan mampu menembus ruang dan waktu.
“… Boleh jadi, mereka ikut menyumbang kegiatan Yayasan Puri Cikeas … sejauh tidak menggunakan uang rakyat dan murni dibiayai oleh pengusaha swasta, tidak ada masalah. Namun karena Sofyan Basir, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Puri Cikeas, maka keuangan yayasan ini perlu diaudit dan dilaporkan ke parlemen, mengingat BRI merupakan BUMN…”
Penulis menyadari akan opini yang dikembangkannya tidak kuat. Sebagai jalan keluar, maka untuk kesekian kalinya digunakan kalimat bersayap: “boleh jadi”. Seluruh teks yang tercantum dalam topik ini, begitu mengandung unsur insinuatif karena tidak melampirkan sumber referensinya. Statemen yang disampaikan berupa spekulasi belaka.
Masyarakat tahu, Yayasan Puri Cikeas adalah yayasan nirlaba dan tidak bertujuan bisnis. Yayasan ini bergerak di bidang sosial yang berhubungan dengan pendidikan.
Semakin jauh membaca buku ini, semakin banyak pula ditemukan kejanggalan. Penerapan logika berpikir yang melompat-lompat dengan tingkat akurasi data yang tidak sahih. Penulis hanya menggatuk-gatukkan sebuah peristiwa atau fenomena kontemporer.
Logika berpikir melompat-lompat, kembali ditemukan pada halaman 56-57. Disebutkan, keterkaitan promosi Batik Allure dengan Ibu Negara Any Yudhoyono. “… Adanya potensi konflik kepentingan antara Ny. Ani Yudhoyono sebagai pembina yayasan itu, dan perusahaan batik baru yang telah mengorbitkan anak dan cucunya sebagai ikon, belum banyak disorot orang…”
Pernyataan ini sepenuhnya merupakan spekulasi si penulis semata. Tidak ada sumber referensi yang akurat sebagai pendukung pernyataan tersebut, karena itu harus dikesampingkan.
Bukankah tugas setiap warga negara, apalagi sebagai Ibu Negara untuk mempromosikan karya anak bangsa. Batik jelas merupakan milik bangsa Indonesia. Dan, setiap produsen yang ingin mempromosikan barang dagangannya, pasti akan menggunakan bintang iklan yang layak jual. Ini teori promosi yang sangat sederhana. Kalau ada produk yang membutuhkan ikon atau bintang iklan untuk sebuah tema provokasi dan sensasional, mungkin George Aditjondro akan dipilih produsen untuk ikonnya.
Dihalaman 59, 60 dan 61, penulis mengulas tentang Yayasan-Yayasan yang dikelola Ibu Negara Any Yudhoyono. Disebutkan, “… Peranan yayasan-yayasan yang berafiliasi dengan SBY dan Ny. Ani Yudhoyono dalam memobilisasi dukungan politik dan ekonomi untuk pemilihan SBY sebagai Presiden untuk kedua dan terakhir kalinya, membuka jalan bagi berbagai jenis pelanggaran hukum yang dilakukan oleh para pendukungnya…”
Untuk kesekian kalinya, penulis kembali menduga dan menyajikan berspekulasi belaka. Tidak ada sumber dan data akurat yang mendukung tudingannya tersebut.
Di halaman 58 – 59, George memaparkan tentang Artalyta Suryani yang menjadi Bendahara Yayasan Mutu Manikam Nusantara . “…Para pengusaha yang bergerak di bidang produksi dan pemasaran mutu manikam, batik, dan sulaman, dapat ikut menikmati promosi yang dibayar dari uang rakyat, dengan berlindung di bawah ketiga payung yayasan yang berafiliasi ke Ny. Ani Yudhoyono ini. Namun, yang paling menimbulkan tanda tanya bagi tokoh-tokoh masyarakat adalah kedekatan Artalyta Suryani dengan Ani Yudhoyono, mengingat posisi Artalyta sebagai Bendahara Yayasan Mutu Manikam Nusantara.”
Pernyataan ini lebih membingungkan lagi. Adalah Artalyta Suryani diberi jabatan oleh George sebagai bendahara Yayasan Mutu Manikam Nusantara. Sejak kapan Artalyta Suryani jadi bendahara Yayasan Mutu Manikam Nusantara? Lagi-lagi George tak dapat menjawab soal ini. Tentu publik melihat acara Kabar Indonesia di TV One, tanggal 29 Desember 2009, ketika Denny Indrayana membantah tudingan itu di depan George.
Setelah menggatuk-gatukkan soal Bailout Bank Century, soal yayasan, George pun merambah ke soal Pemilu. Tudingan-tudingan yang cendrung bersifat spekulatif juga dilontarkan. Tentu saja konsisten dengan logika yang melompat-lompat.
Pada halaman 65 sampai 71, buku ini menceritakan tentang pelanggaran UU Pemilu oleh Caleg Partai Demokrat. Dihalaman 65 tertulis, “… Pelanggaran UU Pemilu diperparah dengan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh sejumlah kader Partai Demokrat. Pemilu kali ini ditandai wabah pembelian suara yang semakin terang-terangan, dibandingkan dengan pemilu-pemilu yang lalu…”
Kemudian pada halaman 66 tertulis “… Padahal praktik pembelian suara yang dilakukan oleh caleg-caleg Partai Demokrat di berbagai wilayah, merupakan salah satu faktor kemenangan Partai Demokrat yang begitu fantastis. Pemilih Partai Demokrat melonjak nyaris tiga kali lipat dari 7 % menjadi 20 % lebih …”
Tak ada satupun fakta pendukung yang dimunculkan untuk memperkuat tudingan ini. Apa yang disampaikan George lebih kepada penafsiran pribadi semata dan sifatnya sangat spekulatif bahkan cenderung berbau fitnah.
Ketika membaca bagian lampiran-lampiran, kejanggalan dan ketidakakuratan atas sumber data, kembali ditemukan. Mari kita simak halaman 84. “.…Pada hari pemungutan suara, tim pendukung ini (Tim Echo) berkonsentrasi memperkuat para saksi di TPS, dengan memberi mereka upah Rp. 100.000/orang…”
Kemudian disebutkan pula tentang tudingan adanya pengelolaan dana ilegal untuk pemenangan Pilpres. “...Adanya pengelolaan dana ilegal untuk pemenangan Pilpres...“ … Tim siluman yang bekerja untuk memenangkan ketiga pasangan Capres dan Cawapres, sulit diatur. Pola kerjanya mirip operasi intelejen dengan dukungan dana tidak terbatas. Tim yang dipimpin oleh mantan Panglima TNI Marsekal (Purn) Djoko Suyanto tidak dilaporkan ke KPU ini berpotensi mengelola dana ilegal, yang jauh lebih besar daripada dana yang dikelola tim resmi.”
Disini, untuk kesekiankalinya, George mengumbar spekulasi yang tidak didukung fakta akurat tentang statemen yang disampaikannya. Tidak ada referensi sama sekali yang menjadikan penulis mengambil kesimpulan seperti itu.
Terhadap soal yang satu ini, Ketua Timnas Kampanye SBY-Boediono, Djoko Suyanto sudah membantah tudingan George melalui acara Metro Pagi di Metro TV, pada 30 Desember 2009.
Pada halaman 140, penulis mengatakan bahwa, “… Pada 29 Oktober 2007, Ny. Ani Yudhoyono meresmikan pusat perbelanjaan bernama Alun-alun Indonesia. Kompleks pertokoan kepunyaan Syamsul Nursalim dan Ijtih Nursalim…” selanjutnya pada halaman 140 disebutkan, “… Benar-benar seremoni yang sangat monumental sekaligus secara tidak langsung mempresentasikan kedekatan teramat erat antara Ny. Ani Yudhoyono dengan Syamsul Nursalim… yang kini masih buron…”
Jelas sekali bahwa kalimat-kalimat tersebut disusun dilandasi interpretasi yang terlalu berlebihan. Sangat naif mengkaitkan sebuah peresmian pusat perbelanjaan, sebagai tanda adanya kedekatan yang sangat erat antara pemilik pusat perbelanjaan dengan yang meresmikannya.
Begitu pula tulisan pada halaman 153 dan 154. Penulis kembali menyinggung soal Artaliyta Suryani. Ditulis bahwa, “… Rupanya rumor kedekatan Ny. Ani Yudhoyono dengan Artalyta sudah menjadi buah bibir di kalangan politisi. Hal ini dikuatkan Adhi Massardi, juru bicara Komite Indonesia Bangkit. Mantan juru bicara Gus Dur ini mengatakan sebelum pernikahan itu, SBY sudah memiliki kedekatan dengan Artalyta. Buktinya, Artalyta-lah yang mengatur SBY waktu itu menjadi Capres Partai Demokrat untuk ketemu dengan Gus Dur…”
Entah dari mana dasar penulis menyusun logika informasi tersebut. Disini yang tampil adalah konstruksi berpikir yang awut-awutan. Kreatifitas berpikir yang disampaikan penulis, menjadi interpretasi yang berlebihan dan sangat spekulatif dan cendrung berbau fitnah.
Secara keseluruhan, apa yang disajikan oleh Goerge dalam bukunya ini sangat jauh dari kaidah-kaidah ilmiah, layaknya sebuah karya intelektual. Antara judul maupun isi buku, cenderung manipulatif dan provokatif. Pengenaan judul Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century juga tidak proporsional. Judul yang sangat bombastis itu tidak sebanding dengan porsi pembahasan yang ada di dalam buku tersebut.
Jika dicermati, tema yang berkaitan langsung dengan tajuk buku hanya memilik porsi 2,5 halaman dari keseluruhan buku setebal 183 halaman, yang terdiri dari materi pokok sejumlah 75 halaman dan lampiran sebanyak 101 halaman.
Menimbang kepada kualitas buku Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century, agaknya tidak perlu untuk menerbitkan sebuah buku putih oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan. Pasalnya, buku ini sulit untuk ditafsirkan, baik menyangkut fakta, peristiwa, atau atas teori yang digunakan. Buku ini terlalu dangkal dalam menampilkan info dan data, serta sangat kental dengan nuansa spekulatif, provokatif, bahkan bisa manipulatif.
Buku ini tidak perlu ditanggapi lebih lanjut. Sebab, memang kurang layak baca dan layak telaah karena fakta dan datanya sangat lemah. Selain tidak reliable juga soal kerangka pemikiran dan teori yang digunakan tidak jelas.
Menjadi sebuah realita, manakala Membongkar Gurita Cikeas: Dibalik Skandal Bank Century banyak menuai bantahan dan somasi.Pasalnya, aspek sensasional dan cendrung bersifat fitnah,begitu terlihat dalam banyak halaman.
Untuk semua itu, George Junus Aditjondro akan merevisi bukunya.
Profil Buku
Judul : Membongkar Gurita Cikeas di Balik Skandal Bank Century Penulis : George Junus Aditjondro Penerbit : Galang Press Yogyakarta Jumlah Halaman : 183 halaman Materi Pokok : 75 halaman Lampiran : 101 halaman, termasuk photo-photo dan profil penulis
Epilog
Kata George Junus Aditjondro Setelah Merilis Bukunya di Yogyakarta
Minggu, 27 Desember 2009 Dikomentari SBY, George Aditjondro Senang
BUKU karya George Junus Aditjondro berjudul ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’ menuai kontroversi. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bereaksi.
George mengaku tak tahu mengapa SBY bereaksi terhadap bukunya. Namun dia mengaku senang.
“Setiap pengarang senang bukunya di tanggapi,” kata dia kepada VIVAnews., Minggu 27 Desember 2009.
Terkait bukunya, George mengatakan, tak banyak hal yang baru. Soal Cikeas, kata dia, banyak orang yang sudah tahu.
George lalu menjelaskan isi bukunya itu. “Ada profil dinasti Sarwo Edi Wibowo, ada foto SBY dan Ani Yudhoyono menghadiri pernikahan anak Artalyta Suryani (terpidana kasus penyuapan jaksa Urip Tri Gunawan),” kata dia.
Kata George, hal itu sudah diketahui publik. “Datanya banyak yang download dari internet. Kalau soal yayasan dari situs masing-masing,” tambah dia.
Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, mengatakan SBY prihatin dengan buku karangan George Aditjondro.
“Di dalam buku itu disebutkan dengan fakta-fakta yang sepertinya tidak akurat dan tidak mengandung kebenaran yang hakiki. Ini yang diprihatinkan presiden,” kata dia di kediaman SBY di Cikeas, Bogor, Sabtu 26 Desember 2009.
Kata Julian, tidak menutup kemungkinan ada langkah hukum yang akan dilakukan SBY maupun yayasannya.
“Buku itu telah dirilis dan dipublikasikan di publik maka yang akan diminta nanti pertanggungjwabannya adalah sejauh mana keotentikan, validitas data, dan kalau perlu sampai proses dimana metodelogi yang digunakan. Sehingga pak Adi Tjondro sampai pada kesimpulan yang disampaikan buku tersebut,” kata Julian. (sumber VIVAnews)
Selasa, 29 Desember 2009 George Siap Terbitkan Edisi Revisi
PENULIS buku berjudul “Membongkar Gurita Cikeas” George Junus Aditjondro segera melakukan revisi terkait protes sejumlah pihak yang dirugikan oleh penulis buku tersebut.
“Memang akan ada yang direvisi untuk diperbaiki, dan termasuk juga soal Antara,” kata George Junus Aditjondro saat bincang-bincang dengan tvone, Selasa 29 Desember 2009.
Menurutnya, dalam edisi revisi yang kedua ini memang sudah dibicarakan sebelum oleh pihak penerbit Galang Press. “Semuanya akan disisir kembali dan semua file yang ada akan dilihat lagi, dan ini akan jadi edisi revisi,” ujarnya.
Terkait hal itu, sebelumnya LKBN ANTARA meminta George segera melakukan revisi terkait tuduhan tuduhan yang tertulis dalam buku tersebut tidak mendasar.
Pemimpin Redaksi LKBN ANTARA, Ahmad Muklis Yusuf menyatakan, apa yang ditulis dalam buku karangan George Aditjondro adalah fitnah dan sangat tidak berdasar. Apalagi disebut-sebut mengalihkan dana PSO ke Bravo Media Centre tim sukses SBY-Boediono.
“Anda perlu tahu sumber dana Antara berasal dari dua sumber, pertama komersial 70 persen, kedua PSO 30 persen,” ujar Ahmad Muklis Yusuf melalui pesan singkat yang diterima VIVAnews, Rabu 29 Desember 2009.
Selain itu, lanjut dia, pendapatan yang berasal dari PSO tidak mungkin dialihkan, karena mekanismenya diverifikasi keuangan negara secara ketat dan diaudit BPK.
“Karena itu saya akan mengajukan somasi kepada penulis langsung siang ini juga dan saya mohon 2X24 jam segera direvisi buku tersebut,” tuturnya. (sumber VIVAnews)
Selasa, 29 Desember 2009 George Aditjondro Akan Revisi “Gurita Cikeas”
DIRUT Perum LKBN ANTARA Ahmad Mukhlis Yusuf menyambut baik kesediaan George Aditjondro untuk merevisi buku “Membongkar Gurita Cikeas Di Balik Kasus Bank Century”, khususnya bagian yang menuding kantor berita nasional itu mengalihkan sebagaian dana PSO Antara untuk Bravo Media Center.
“Pak George telah mengakui bahwa tuduhan itu keliru, dan kami sambut baik niat beliau untuk meluruskan bukunya. Intinya tidak ada pengalihan dana PSO Antara ke Bravo Media Center,” kata Mukhlis seusai dialog terbuka dengan Geroge Aditjondro di studio TV One Jakarta, Selasa.
Menurut Mukhlis, George Aditjondro tidak bisa membuktikan tuduhan pengalihan dana tersebut dan hanya berdasarkan asumsi atas info sepihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. George menyebut infonya berdasarkan orang dalam ANTARA, tapi Mukhlis mempersilahkan penulis buku kontroversial itu untuk datang dan menanyakan langsung kepada setiap karyawan mengenai kebenaran dari tuduhanya itu.
“Silahkan untuk konfirmasi dan verifikasi kepada karyawan ANTARA. Kekeliruan George adalah karena tidak konfirmasi dan verifikasi kepada kami,” kata Mukhlis.
Dalam pembicaraan sebelum dan sesudah dialog yang ditayangkan langsung itu, Mukhlis menyampaikan kepada George Aditjondro bahwa jika dia ingin mengungkap kebenaran, maka kantor berita nasional itu siap memberikan data dan informasi yang diperlukan.
“Bukankah kewajiban pertama wartawan dan intelektual itu sama, yaitu kepada kebenaran. Jika kebenaran itu terbukti salah, maka pada kesempatan pertama harus direvisi. Saya ketuk hati nurani George dan dia terbuka untuk merevisi,” kata Mukhlis.
Ia mengatakan soal revisi George Aditjondro siap, tapi untuk minta maaf pada tahap sekarang ini, “beliau masih mempertimbangkan,”.
Perum LKBN ANTARA tetap menyatakan bahwa somasi tetap diberlakukan kepada George Aditjondro untuk memastikan revisi buku dilaksanakan dan kekeliruan atas tuduhan pengalihan dana PSO Antara ke Bravo Media Center diluruskan. Sebelumnya, Perum LKBN ANTARA melakukan somasi agar dalam waktu 3X24 jam memberikan penjelasan atas tuduhannya kepada kantor berita itu. LKBN ANTARA menuntut George meminta maaf dan melakukan revisi atas bukunya.
“Langkah hukum masih terbuka. Hanya jika Aditjondro telah merevisi buku itu, mengaku keliru dan meminta maaf, maka kami akan cabut kembali somasi tersebut,” demikian Mukhlis Yusuf. (sumber ANTARA News)
Selasa, 29 Desember 2009 George: Saya Siap Masuk Penjara
GEORGE Junus Aditjondro penulis buku “Membongkar Gurita Cikeas” mengaku siap dipenjarakan demi menjaga kerahasiaan orang-orang yang sudah memberikan informasi seputar aliran dana dari Cikeas.
Sumber tidak jelas itulah yang berujung pada pencekalan terhadap dirinya, karena sebagai mantan wartawan George dinilai Pemimpin Redaksi Harian Jurnal Nasional Ramadhan Pohan, dalam menulis tidak dilengkapi data dan sumber akurat saat menulis. Sehingga, tulisan itu tidak layak diterbitkan.
Namun, George berpendapat beda, menurutnya wartawan bisa menulis berita dari sumber yang bisa dirahasikan, asalkan data dan fakta jelas dan lengkap. “Karena saya mantan wartawan, saya mampu dan mengerti hal itu,” kata George saat bincang-bincang dengan tvone, Selasa 29 Desember 2009.
Karena itulah, demi untuk melindungi dan membela sumber terpercayanya, George mengaku siap dipenjarakaan demi merahasiakan sumber itu. “Saya bersedia masuk penjara, dan dalam buku ini saya tidak merasa mencemarkan nama baik seseorang, atau siapapun,” tegasnya.
Meski demikian, George juga bersedia melakukan revisi ulang isi dari tulisan buku tersebut, terkait protes sejumlah pihak yang dirugikan oleh penulis buku tersebut. “Memang akan ada yang direvisi untuk diperbaiki, dan termasuk juga soal Antara,” kata George Junus Aditjondro.
Menurutnya, dalam edisi revisi yang kedua ini memang sudah dibicarakan sebelum oleh pihak penerbit Galang Press.
“Semuanya akan disisir kembali dan semua file yang ada akan dilihat lagi, dan ini akan jadi edisi revisi,” ujarnya.(sumber VIVAnews)
Rabu, 30 Desember 2009 Fadjroel Cs Urunan Dana untuk Revisi Buku George
KESUKSESAN pengumpulan dana untuk Prita Mulyasari rupanya ingin ditiru Koordinator Kompak Fadjroel Rahman. Dia pun mengajak sejumlah rekannya untuk membantu mengumpulkan dana bagi Geoge J Aditjondro untuk merevisi bukunya.
“George butuh dana untuk revisi,” jelas Fadjroel sambil memasukkan sejumlah uang ke kardus di Doekoen Coffee di Jl Pasar Minggu, Jaksel, Rabu (30/12/2009).
Langkah Fadjroel pun lantas diikuti teman-temannya yang lain. Mereka memasukkan sejumlah uang ke kardus yang diedarkan di acara jumpa pers launcing buku ‘Membongkar Gurita Cikeas’ itu.
Di dalam kardus tampak sejumlah uang tumpukan uang mulai dari pecahan Rp 50 ribu hingga pecahan Rp 1.000, meski ada pula koin Rp 500.
Sedang George, terkait revisi mengaku dirinya tidak bekerja dengan rencana. “Ada anggaran terus bekerja. Saya bekerja ini cicilan, menulis adalah hobby dan semua yang saya lakukan karena saya senang. Saya tidak merokok saya tidak minum-minum,” terang George.
Dia mengaku belum bisa menghitung anggaran untuk melakukan revisi. “Tidak bisa digambarkan, saya tidak memakai modal konvesional,” imbuhnya.
George juga mengaku dirinya berbuat seperti itu karena Ramadhan berulang kali kerap memaki dia.
“Kalau ada yang memaki-maki anda berkali-kali, memfitnah Anda berkali-kali yang pertama anda lakukan mengelus dada, kedua diam, dan ketiga bereaksi,” jelasnya.
Dia mengaku Ramadhan Pohan sudah untuk kali ketiga melakukan hal yang sama. “Itu sudah ketiga kali dia memfitnah melakukan hal yang sama. Sekarang siapa yang berhalusinasi,” imbuhnya.
Tidak takut dengan ancaman hukuman? “Saya pikir dia pandai main drama,” tutupnya. (sumber detikNews)
Rabu, 30 Desember 2009 George Belum Siap Berdialog dengan Karyawan LKBN ANTARA
PENULIS buku “Membongkar Gurita Cikeas” George Junus Aditjondro mengatakan dirinya belum siap berdialog dengan karyawan Perum LKBN ANTARA pada saat ini.
“Undangan dialog dengan karyawan LKBN ANTARA mungkin lain kali, karena besok sudah pulang ke Yogyakarta ingin berlibur akhir tahun bersama keluarga,” kata George Junus Aditjondro menjawab pertanyaan ANTARA pada peluncuran buku “Membongkar Gurita Cikeas” di Doekoen Cafe, Jakarta, Rabu.
Goerge mengatakan dirinya siap berdialog dengan karyawan LKBN ANTARA dengan syarat diberlakukan UU Perlindungan saksi baik bagi tim informan yang menjadi sumbernya maupun dirinya sendiri. Mantan staf pengajar sebuah universitas swasta di Salatiga Jawa Tengah ini mengusulkan untuk berdiskusi di tempat yang netral.
Dalam kesempatan tersebut wartawan ANTARA Theo Yusuf menanyakan, apakah Goerge siap melakukan dialog dengan karyawan Perum LKBN ANTARA untuk mengklarifikasi tulisannya yang menampilkan fakta tidak benar.
George Junus Aditjondro menulis pada buku “Membongkar Gurita Cikeas” bahwa separuh dari dana PSO LKBN Antara yang berjumlah Rp40,6 miliar mengalir ke Bravo Media Center (BMC) , salah satu tim kampanye SBY-Boediono serta terjadi keresahan di kalangan karyawan LKBN ANTARA.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum LKBN ANTARA Ahmad Mukhlis Yusuf mengatakan, Direksi Perum LKBN ANTARA berkesimpulan informasi tiga halaman, pada halalaman 29-31, tidak ada kebenarannya alias fitnah.
“Tidak ada uang satu sen pun yang dialihkan ke Bravo Media Center. Kalau uang miliaran rupiah itu betul dialihkan, wartawan dan karyawan ANTARA tidak gajian,” katanya.
Menurut Mukhlis, mekanisme pencairan dana PSO ANTARA dilakukan sebagai pergantian biaya (reimbursement) atas sebagian dana operasianal ANTARA terhadap tema-tema liputan yang disepakati dengan penyelenggara negara setiap tahun.
“Jadi, penggunaan dana PSO ANTARA tidak mungkin dialihkan,” katanya.
Ketua Serikat Pekerja ANTARA, Theo Yusuf, yang juga wartawan senior ANTARA menjelaskan, tidak benar ada keresahan di kalangan wartawan seperti dinyatakan George Aditjondro dalam bukunya.
“Karyawan dan wartawan mendukung langkah pembenahan manajemen yang sedang dilakukan Direksi sejak 2007, dalam penataan SDM, penguatan sistem dan pembenahan bisnis perusahaaan,” katanya.
Serikat Pekerja ANTARA, kata dia, bersama Direksi telah menyepakati Peraturan Kerja Bersama (PKB) yang telah ditandatangani Direksi dan serikat pekarja pada 10 November 2008.
Penandatanganan PKB ini, katanya, menunjukkan adanya komitmen yang kuat dari kedua belah pihak untuk menumbuhkan hubungan kerja industrial yang baik.(sumber ANTARA News)
Rabu, 30 Desember 2009 George: Saya Memang Ingin Hentikan Halusinasi Dia
JAKARTA - George Junus Aditjondro, penulis buku ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’ memukul politisi Partai Demokrat Ramadhan Pohan dengan bukunya. George mengaku ingin menghentikan komentar Ramadhan soal bukunya.
“Saya memang ingin menghentikan halusinasi dia. Dia yang menjadi rangkaian skandal Century kok malah balik nuduh saya,” ujar George di Doekoen Coffe, Pancoran, Jakarta, Rabu (30/12/2009).
Namun George yakin, pukulannya itu tidak mengenai Ramadhan. “Tangan saya tidak mengenai dia. Bahkan buku saya pun tidak menyentuhnya,” elak George.
Pemukulan itu terjadi ketika Permadi sedang berbicara dalam acara diskusi peluncuran buku itu. Di sisi lain terdapat sofa yang diduduki oleh lima orang antara lain George, Boni Hargens dan Ramadhan. Ramadhan terlihat berbicara serius, memprotes isi buku tersebut. Tampaknya nada keras Ramadhan membuat George geram sehingga dia memukul anggota DPR itu dengan bukunya.
Ramadhan langsung berdiri sambil menunjuk-nunjuk wajahnya, menyatakan dirinya dipukul. Mantan Pemred Jurnal Nasional ini pun segera meninggalkan ruangan diskusi dan melaporkan peristiwa ini ke Polda Metro Jaya.
Dalam diskusi tersebut Ramadhan Pohan membantah isi buku karangan George tersebut. “Buku karangan George adalah kebohongan!” ujar anggota DPR ini.(sumber detikNews)
Rabu, 30 Desember 2009 Kata George Junus Aditjondro: Tidak Memukul Ramadhan Dengan Sengaja
PENULIS buku "Membongkar Gurita Cikeas", George Junus Aditjondro mengatakan tidak memukul Ramadhan dengan sengaja. Dia menyatakan Ramadhan terus memprovokasinya sehingga tanpa sadar dia melempar kertas dan buku yang dia pegang.
“Padahal tadi saya duduk selisih dua orang dengan dia, tadi ada Boni (Boni Hargens) yang juga kena lemparan itu,” kata Aditjondro dalam jumpa pers setelah peluncuran bukunya di Doekoen Cafe, Jakarta, Rabu, 30 Desember 2009.
Menurut Aditjondro, dia sudah pernah beberapa kali berdiskusi dengan Ramadhan namun Ramadhan selalu provokatif dan mendramatisir keadaan. “Dia mengatakan saya berhalusinasi padahal kalau dihitung kadar halusinasinya, dia lebih banyak,” tutur Aditjondro.
Aditjondro menduga mantan pemimpin redaksi Jurnal Nasional Ramadhan Pohan sengaja mengalihkan isu dari polemik buku ke isu pemukulan.
Aditjondro menilai langkah Ramadhan untuk melaporkan dia dengan tuduhan penganiayaan terlalu berlebihan.
“Jangan-jangan ini sudah diskenariokan,” kata Aditjondro.
Ramadhan telah melaporkan pemukulan tersebut dan mengadukan Aditjondro atas tuduhan melakukan penganiayaan dan dapat dijerat pasal 351 KUHP soal penganiayaan dan kekerasan.
“Saya melaporkan pihak terlapor George Aditjondro dengan ancaman jeratan hukum pasal 351 soal penganiayaan,” kata Ramadhan Pohan di Polda Metro Jaya, Rabu 30 Desember 2009.
Insiden keributan mewarnai peluncuran buku ‘Membongkar Gurita Cikeas.’ Insiden terjadi antara Pemimpin Redaksi harian Jurnal Nasional Ramadhan Pohan dengan si pengarang buku, George Junus Aditjondro.
Ramadhan Pohan yang juga anggota DPR dari Fraksi Demokrat merupakan salah satu penanggap dalam acara peluncuran buku. (sumber VIVANews)
Setiyardi Negara, Redaksi |