Pemerintah Didesak Tindak Penyerang Ahmadiyah
30 Jul 2010 09:07:02
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didesak serius memperhatikan kasus penyerangan jamaah Ahmadiyah di Manislor, Kuningan, Jawa Barat. Kepala Negara diminta membuat pernyataan mengutuk para perusuh. Termasuk teguran keras atas keterlibatan Bupati Kuningan yang mengeluarkan SK penyegelan masjid Ahmadiyah.
Desakan tersebut datang dari The Wahid Institute, sebuah lembaga kajian yang didirikan almarhum mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kepada pers, di Jakarta, Jumat (30/07).
Rumadi, Koordinator Program The Wahid Institute mengungkapkan, penyerangan itu jelas tindakan yang mencederai amanat konstitusi. Padahal, aparatur negara seharusnya melindungi warganya.
The Wahid Institute memberikan apresiasi tinggi kepada aparat kepolisian yang bekerja keras menghalau perusuh yang hendak merobohkan masjid Ahmadiyah itu. Berkat kerja keras polisi, kata Rumadi, tidak sampai terjadi bentrokan parah dan warga Ahmadiyah mampu diamankan. Namun The Wahid Institute juga meminta polisi segera menangkap pihak-pihak yang menyulut aksi kekerasan ini.
"Kami yakin aparat kepolisian sudah tahu siapa aktor dibalik kerusuhan tersebut, termasuk kemungkinan adanya aktor dari Jakarta. Perusuh jelas merupakan gerakan yang terorganisasi," tegas Rumadi.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto menyatakan keprihatinan pemerintah atas tindakan anarkistis sekelompok orang yang melempari dan merusak tempat peribadatan di Kuningan, Jawa Barat.
Bentrok massa yang melibatkan jamaah Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat, dengan petugas Satpol PP setempat itu, kata Djoko, mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
"Seharusnya, peristiwa itu tidak perlu terjadi. Masalahnya harus dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan damai," tegas mantan Panglima TNI itu.
Masjid An-Nur
Peristiwa itu berawal penyegelan Masjid An-Nur milik jamaah Ahmadiyah, di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan, kemarin. Melihat penyegelan oleh Satpol PP itu, jamaah Ahmadiyah marah dan melempari mereka dengan batu.
Pihak jamaah Ahmadiyah sangat menyesalkan penyegelan tempat ibadah tersebut. Apalagi, dilakukan pada pagi hari. Ketika itu, para jamaah sedang beraktifitas, serta anak-anak mereka tengah bersekolah.
Sejauh ini, jamaah Ahmadiyah merasa sudah tidak nyaman lagi beraktifitas. Satu-satunya tempat yang nyaman untuk mereka, di Provinsi Kepulauan Riau. Sebab, di provinsi tersebut diterima masyarakat dengan baik.
Mantan pemimpin Ahmadiyah di Pulau Bintan (Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan) M. Nasrun, mengatakan hubungan sosial antara pengikut Ahmadiyah dengan masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) berlangsung baik. Mubaligh Ahmadiyah di Batam itu mengatakan, belum pernah ada konflik antara warga dengan mereka.
Karena itu, pengajaran Ahmadiyah berpusat di Batam, dengan jumlah jemaat mencapai 65 orang. Sementara jamaah Ahmadiyah di Pulau Bintan, 75 orang, namun beberapa di antaranya sudah tidak aktif.
na/bln |